Sabtu, 08 Agustus 2009

(Akhirnya) Berasa Jadi Seorang Kakak

Perasaan ini belum lama hinggap dalam hati. Sebuah rasa yang sepertinya baru kedua kali ini saya rasakan. Dulu sih pernah merasakan yang seperti ini tapi tampaknya tidak terlalu berkesan sehingga tidak membekas dalam benak saya. Kejadian ini baru terjadi kemarin malam, walau stimulusnya sudah saya rasakan sejak beberapa minggu ini.

Beberapa malam lalu, saya sedang sibuk sendiri di kamar, mencoba untuk mencari informasi yang cukup berharga untuk dimasukkan ke dalam otak. Di dalam penelurusuran lewat dunia maya, akhirnya saya menemukan artikel yang cukup berguna dalam misi saya sebagai orang yang berwawasan luas. Situasi kala itu memang terbilang cukup sepi daripada hari-hari sebelumnya. Ini dikarenakan pancuran yang ada di kolam depan kamar mendadak macet, alhasil suasana malam yang biasanya diramaikan oleh gemericik air, harus rela ditemani hening yang menyeruak menabuh sesunyian. Bola mataku tiba-tiba melirik ke arah luar, pintu kamarku memang sengaja kubiarkan terbuka karena tidak ada orang di rumah, takut kalo ada tamu yang tidak diundang masuk. Sekelabat bayangan lewat depan kamarku, ah aku pikir siapa, toh juga tidak ada orang di rumah, begitu pikirku. Aku tidak pernah berpikir tentang segala sesuatu yang aneh dan tidak bisa dimasukkan dalam nalar pikirku. Bagiku cukup melelahkan kalau harus bergumul dengan hal-hal seperti itu. Baru saja sempat berpikir, pintu kamarku sudah tergeser oleh sebuah tangan yang mendadak muncul disana. “sreeekkk....” dengan mengendap, mungkin takut dipergoki orang, sosok itu segera duduk di depan meja belajarku, sedangkan aku yang sedang bersandar di tepian tempat tidur hanya bisa tertegun.”Ah, itu adikku, ada apa dia di kamarku?” aku membatin.

Dia bersila di sana, menghela nafas sebentar, dan mulai mengeluarkan sepatah kata pembuka “Mas, aku meh cerito”. Jantungku mendadak langsung berdetak kencang, entah apa yang terjadi padaku saat itu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ada orang yang selama ini tinggal bersama denganku, sekarang duduk di depanku, dan mau bercerita, harusnya ini bukan merupakan hal yang aneh dan luar biasa. Tapi bagiku saat itu, ini adalah yang kejadian yang melebihi luar biasa, aku nggak tahu apakah ada kata-kata yang bisa menggambarkan. Ya, saya terlalu gembira mungkin saat itu!

Aku menegakkan posisi dudukku dan berbicara “Piye...piye..ono opo le?” Lalu dia pun mulai bercerita panjang lebar tentang masalah yang sedang dialami dengan pacarnya. Aku pun menyimak setiap perkataan yang terucap dari mulutnya berusaha merangkai dan membayangkan berbagai macam kejadian yang ada. Menyusunnya sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh dan tentu saja bisa saya beri respon yang sesuai dengan harapannya. Sekitar 20 menit kami saling berdiskusi tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya, mungkin tidak ada solusi yang cukup bagus untuk masalahnya tersebut, tapi paling tidak aku sudah berusaha sebisaku. Dia pun beranjak dari tempat duduknya, masih dengan muka bingung. Aku hanya tertegun di sini, menahan agar tidak terlalu terlihat gembira. Padahal semua organ tubuhku mungkin sudah mengalami reaksi yang berlebihan gara-gara kejadian barusan. Ya, adikku curhat. Adikku curhat denganku. Wow!

-----ii-----

Mungkin bagi kalian apa yang saya ceritakan barusan tidaklah terlalu menarik untuk disimak. Tapi bagi saya yang sepanjang hidup di dunia ini tidak pernah merasakan kehadiran seorang saudara di dalam hati. Hal ini menjadi sebuah keajaiban yang tidak pernah bisa terkatakan.Ya, saya memang dilahirkan dalam sebuah keluarga yang damai, tidak pernah ada ribut-ribut yang berarti, sangat damai, bahkan boleh dibilang seharusnya saya tidak mempunyai komplain apapun terhadap kondisi ini.

Tapi kehangatan sebuah keluarga tidak pernah saya rasakan sampai umur saya menginjak 20 tahun. Entah apa yang terjadi di umur itu, segalanya tampak begitu baik di mata saya. Semuanya tampak berbalik 180 derajat. Segala yang menjadi ideologi saya di umur-umur sebelumnya tampak begitu buruk dan tidak berarti. Sebuah antiklimaks dari keyakinan yang selama ini saya perjuangkan. Ada banyak hal yang selama ini hidup dalam pikiran saya ternyata berdampak buruk bagi orang-orang di sekeliling saya. Satu hal yang membikin saya merasa jauh dari keluarga adalah sikap yang terlalu egois. Sikap ini membuat saya menjadi orang yang apatis dan tidak mau peduli dengan lingkungan. Lebih lanjut lagi, sikap ini membuatku menjadi seseorang yang tidak peka. Alhasil, saya jadi tidak pernah memperhatikan orang lain. Suatu efek domino yang dihasilkan dari sebuah sikap yang dibangun semenjak muda.

Ya, saya baru menyadari bahwa sikap ini merupakan sikap yang salah baru ketika saya berumur 20 tahun. Saya lupa kejadian apa yang menyebabkan saya tersadar akan kesalahan yang sudah saya buat selama ini. Lupa akan titik baliknya. Tapi kesadaran yang bisa dibilang terlambat ini membuahkan efek yang luar biasa dalam hidup saya. Lambat laun saya menjadi orang yang sangat tenang, mulai suka memperhatikan orang lain, bertambah bijak, dan bisa mengendalikan diri saya sedemikian rupa. Walaupun terkadang, saya masih sering lepas kontrol ketika saya sedang malas mengendalikan diri. Tidak bisa dijadikan pembenaran juga sebetulnya. Perubahan demi perubahan baik yang saya alami ini secara tidak langsung membuat saya peka terhadap keadaan lingkungan, terlebih lingkungan rumah.

Ibu dan bapak saya adalah dua orang teladan yang sangat saya kagumi. Mereka tidak menggurui saya dengan berbagai macam kata-kata bijak yang membuat saya muak. Mereka mengajar saya dengan hal yang paling sederhana, ya mereka MELAKUKAN hal-hal baik di depan saya. Dulu sih, aku tidak terlalu sadar apa yang mereka selalu lakukan. Akhirnya (mungkin) karena aku terlalu tidak peduli, mereka pun ngomong blak-blakan tentang apa yang selama ini mereka lihat tentang saya. Sejak itu, aku terus berpikir tentang apa yang mereka katakan. Dan aku membenarkan segala yang mereka katakan tentangku. Ya, inilah sebuah proses yang memang harus kujalani. Mungkin kehidupan 20 tahun itu adalah cermin yang harus aku lihat setiap saat sehingga aku tidak kembali ke kesalahan yang sama.

Perubahan-perubahan itulah yang akhirnya menggiring perasaan saya untuk bisa menjadi kakak yang baik bagi adikku satu-satunya. Sekarang dia sudah kuliah tahun kedua, saya tidak pernah ngobrol dengan dia sebelum malam itu. Entahlah, dulu ada ego yang sangat besar dari diriku. Bahkan untuk sekedar menyapa pun enggan, kami seperti hidup di dalam dunia sendiri-sendiri. Makanya kehidupan di rumah menjadi sangat dingin, tidak pernah ada gelak tawa yang selalu tiap malam aku impikan. Ya, aku lama kelamaan tersadar bahwa kondisi itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Harus ada yang memulai untuk melakukan perubahan dalam situasi yang kalau dibiarkan menjadi semakin mengacaukan. Ego yang semakin bisa dikendalikan memungkinkan saya untuk bisa melakukan manuver-manuver jitu di rumah. Berkat bantuan Tuhan, kondisi rumah selama setahun ini sangat baik dan saudara-saudara yang berkunjung pun merasakan hal yang berbeda. Dulunya kami berdua tidak begitu akrab dengan bapak-ibu, sekarang kami berdua akrab dan kami juga akrab dengan bapak-ibu. Pergolakan yang selama ini terjadi tampaknyan tidak terbuang percuma. Tapi terendap menjadi pelajaran berharga bagaimana mengarungi kehidupan sebagai sebuah keluarga.

Sebenarnya, stimulus untuk menjadi seorang kakak yang baik sudah ada sejak saya dekat dengan Pipin. Ya, Pipin adalah tipe adik yang baik, yang sangat perhatian dengan kakakknya (aku.red). Karena dia seorang perempuan dan aku tidak pernah punya adik perempuan, maka kerinduan-kerinduan untuk menjadi seorang kakak yang melindungi, bijak, dan selalu ada bila adiknya ada kesulitan pun muncul di benakku. Entah, mungkin orang ini malaikat kiriman Tuhan yang sengaja didatangkan untuk merubah hidupku yang buruk menjadi lebih baik dan bermakna bagi orang lain. Dari dia jugalah aku belajar untuk sabar, mau memperhatikan orang lain, dan berbagai macam hal baik yang dia perlihatkan kepadaku. Semakin aku dekat dengan dia, mungkin akan banyak hal buruk dalam diriku yang enyah tak berbekas. Dia juga satu-satunya orang yang bisa menenangkanku ketika aku sedang gelisah.

Aku malu karena begitu banyak hal baik yang dia berikan kepadaku. Tapi aku tidak pernah sekalipun bisa memberikan kebaikan kepadanya. Ah, ironis sekali. Aku tidak tau juga apa yang bisa kuperbuat untuk membalas Pipin. Tapi paling tidak di dalam hatiku, aku sudah membulatkan sebuah tekad kuat. Aku mau menjadi seorang “Pipin” bagi adikku. Ya, aku hanya ingin belajar bagaimana menjadi seorang kakak yang baik.

Rabu, 05 Agustus 2009

Apakah takut ber-Tuhan?

Pagi ini masih liburan semester. Rasa malas belum mau beranjak dari pikiran. Dan parahnya lagi aku tidak bisa mengeyahkan itu, membuangnya, kemudian melakukan hal yang lebih berguna. Padahal di meja belajarku ada bermacam-macam buku yang belum sempat aku baca, ada buku EKG, ada kumpulan koran yang sengaja aku pilih untuk kubaca-baca lagi. Aku pingin menjadi orang yang segala tahu, maksudnya bukan untuk sombong bahwa aku ingin tahu semua hal di dunia ini. Sebuah keinginan yang sangat tidak mungkin terkait dengan keterbatasanku sebagai seorang manusia. Yah, paling tidak aku menjadi orang yang berwawasan luas yang bisa diajak ngobrol tentang apapun dan yang paling aku harapkan adalah aku bisa menceritakan kepada orang lain hal-hal yang pernah aku baca atau aku lihat. Ya, hanya semangat untuk berbagilah yang mendasari itu semua. Tidak ada maksud lain, tidak ada sesuatu yang terselubung. Tampaknya aku harus memperkuat niatku ini. Aku yakin aku mampu ketika aku mau.

Pagi ini akhirnya aku membuka facebook setelah sekian lama aku memendam diri untuk tidak membuka situs pertemanan itu. Ya, semakin lama tidak ada aktivitas yang cukup dinamis untuk bisa meningkatkan warna-warni harimu. Hanya seperti itu saja, komen-komenan, maen games, dan semakin lama makin membosankan karena tidak ada yang bisa dilakukan lebih daripada itu. Akhrinya, seminggu ini saya berusaha untuk tidak membuka facebook, ternyata tidak cukup hebat untuk bisa mencandui saya. Di facebook saya bertemu dengan adik yang sangat saya sayangi, yaitu si Pipin. Seorang wanita, adik kelas, yang telah berhasil “menobatkan” saya walau hanya sedikit, tapi paling tidak saya bertobat sedikit daripada tidak sama sekali. Semenjak dekat dengan dia, saya menjadi “agak lebih” rajin berdoa. Walaupun masih bolong-bolong juga, tapi paling tidak saya mempunya kerinduan untuk dekat dengan Tuhan. Sebuah resolusi yang bahkan tidak pernah saya cantumkan di daftar kertas saya untuk tahun ini. Entahlah mungkin Tuhan mengirimnya untuk memberi tahu aku bahwa aku sudah harus kembali pada-Nya. Pipin yang sangat “suci” ,menurut penilaianku, paling tidak berhasil mempengaruhiku secara tidak langsung untuk rajin berdoa, karena kalau ketemu dia pasti bawaannya ngajak berdoa bersama. Apa boleh buat saya ikut saja apa yang dia mau. Toh setelah dijalani selama ini, ternyata berdoa yang dulu adalah aktivitas yang membosankan, akhir-akhir ini menjadi aktivitas yang cukup menyenangkan, (lagi-lagi) paling tidak sudah ada dorongan yang cukup kuat di otak saya untuk bisa berdoa dan ingat Tuhan setiap saat. Memang sih, tidak bisa dipungkiri bahwa kadang otak tidak bisa cukup kuat untuk mempengaruhi seluruh pergerakan tubuhku ini. Jadi sering, keinginan itu hanya ndongkrok di pikiran tanpa pernah terealisasi.

Kembali soal hari ini, dalam chattingan yang melibatkan saya dan Pipin, tiba-tiba dia mengajak saya untuk ikut dalam komsel. “Emang komsel apaan pin?” saya bertanya dengan sedikit heran. “KTM alias Komunitas Tri Tunggal Mahakudus mas”. Walah..pikiran saya pun langsung tidak sanggup lagi untuk berpikir, mau direset berulang kali pun kayanya nggak bisa lagi, kalo ibaratnya maen PS mending diremukke wae PS-nya, njuk beli X-box. Entah apa yang terjadi dengan saya ketika Pipin mengajak saya untuk bergabung ke komunitas itu. Ada beban berat yang langsung menindih pundakku ketika mendengar nama komunitas. Bayangku pun menerawang dan berusaha untuk mereka-reka apa yang akan aku alami di sana. Pendalaman kitab suci, sharing iman, dan diskusi-diskusi yang pasti akan sangat membuat aku “ketakutan”. Ya, ketakutan yang tidak beralasan mungkin, karena toh aku belum pernah mencoba mengikuti. Ketakutan ini muncul karena aku menganggap diriku tidak pantas berada di sana, berbaur dengan orang-orang yang sudah ahli dalam hal-hal ke-Tuhan-an atau paling tidak mempunyai pengalaman bergumul dengan Tuhan. Sedangkan aku sendiri adalah anak muda yang sangat sering bercengkrama dengan setan dalam berbagai macam kegiatannya. Masih pantaskah aku untuk berada di tengah-tengah orang seperti mereka? Ya, ada banyak ketakutan yang membuncah mendadak di pikiran tidak bisa ditanggulangi lagi.

Aku pernah merasakan perasaan yang sama pada saat aku akan masuk kedokteran. Saat itu aku bercerita dengan ibu salah seorang temanku, bahwa aku menjadi sangat takut karena pasti di kedokteran akan ada banyak orang-orang pintar yang tidak mampu aku saingi. Ya, aku saat itu memang tidak tertarik untuk masuk ke kedokteran, semuanya terjadi karena memang sudah takdir yang menginginkan itu terjadi. Jadi aku sama sekali tidak punya bekal yang cukup untuk bisa bertahan di sana. Tapi, sampai saat ini aku masih bertahan sebagai mahasiswa tingkat 4 di jurusan itu, sebuah prestasi yang bagiku sangat membanggakan, aku tidak harus keluar dan mencari jurusan lain selain jurusan yang telah dipilihkan “ALAM” kepadaku. Situasi inilah yang terjadi lagi pagi hari ini, sudah kalah perang padahal aku belum maju ke medan perang itu. Aku selalu membayangkan bahwa aku akan mengalami kesulitan yang besar ketika aku berada di situasi yang aku bayangkan tidak bisa aku kuasai. Ya, mungkin memang akan ada kesulitan yang akan aku temui, tapi toh Tuhan sendiri bicara bahwa Dia tidak akan memberikan cobaan yang tidak akan bisa kita tangani. Dengan kata lain, kita pasti lebih kuat dan lebih hebat dari segala macam kesulitan yang akan kita hadapi. Cuma mungkin dunia mendidik kita bagaimana kita menyadari bahwa kita kuat dengan memberikan cobaan atau kesulitan yang memang harus kita lewati. Aku sadar bahwa kalau aku terus menerus terjebak pada pikiranku sendiri dan menjadi orang yang tidak berani mengambil risiko untuk kemajuan pribadi, tentu aku akan menjadi orang yang biasa-biasa saja. Terjebak dalam kenyamanan semu yang mungkin malah membuatmu berjalan di tempat.

Ya, pengalaman hari ini mengajarkanku bahwa aku tidak boleh takut menghadapi apapun yang ada di dunia karena aku yakin bahwa Tuhan akan selalu memampukan manusia dalam melewati setiap kesulitan yang akan menerpa. Seberat apapun itu, sekeras apapun itu, pasti aku akan bisa melewatinya. Tuhan selalu ada di sampingku ketika aku jatuh, untuk menarik kedua tanganku, Tuhan akan ada di belakangku untuk mendorongku maju ke depan, dan tentu saja Tuhan akan berada di depan untuk menuntun dan menunjukkan jalan yang benar kepada kita. So, jangan pernah takut akan apapun, takutlah pada satu hal: TUHAN.

Senin, 08 Desember 2008

Peluk


Kata-kata inilah yang paling sering kau tuliskan di bawah deretan kata dunia mayamu. Entah apakah kau memang haus dekapan atau kau menyediakan orang lain untuk bisa bersandar di pundakmu. Aku sendiri masih tidak tahu sampai saat ini. Terakhir kali kau berkirim kabar denganku tidak ada kata itu di tempat biasanya. Mungkin kau terlupa atau sudah tidak menganggap itu hal penting lagi untuk diketahui. Padahal deret kata yang lain masih menyisakan secuplik kata itu di epilog.

Kau selalu berkata padaku bahwa peluk berarti bahagia karena kita seperti membagi beban diri kita kepada orang lain. Dan kau selama ini selalu melakukan itu setiap kali kau berkeluh kesah. Ya, hanya sekedar genggam erat yang terjadi. Tapi bagimu, dekap itu adalah hal paling berharga yang bisa dilakukan. Aku masih ingat ketika bulan purnama melihat kita berpeluk saling melegakan di hamparan tanah lapang itu. Peluk yang membuat kita berkata bahwa tidak mau kehilangan satu sama lain.

Aku mendadak menjadi orang linglung semenjak saat itu. Seperti orang yang tak tentu arah. Berjalan berdasarkan naluri yang terkadang malah menjerumuskan ke jurang penuh nista. Aku tidak berharap semua akan begitu kacau seperti ini. Selama ini memang aku yang berbuat gara-gara. Merusak apa yang sudah terbangun dengan rapi. Menghancurkan harapan yang membuat orang lain mungkin akan depresi berhari-hari ketika mengalaminya.

Aku berusaha melakukan yang terbaik untuk memperbaiki semuanya. Kekacauan yang sudah kubuat. Pilihan yang harus diambil. Ketegaanku menghempaskanmu dari selubuk ruang hatiku. Oh aku lupa. Kau tidak mungkin terhempas kecuali kau melakukannya sendiri. Seperti bisma yang tidak akan pernah mati kecuali dia yang menghendaki. Begitulah diriku, tidak mungkin akan meninggalkan engkau pergi begitu saja. Kau mungkin yang akan perlahan demi perlahan membalikkan badan sembari berjalan menjauh.

Aku tidak pernah mengganggap engkau seperti layang-layang yang dengan mudah terbang melayang tinggi ke angkasa. Tapi bisa seenaknya kutarik dan kukendalikan sesuka hatiku. Aku suka melihatmu menawarkan dunia dengan segudang pengalaman dan pemikiran yang ada di dalammu. Dunia yang berusaha direkam dalam tiap lubuk bercampur kegirangan.

Aku lebih suka melihatmu terbang bebas layaknya burung merpati. Mengepak sayap tanpa kenal lelah. Jelajahi sudut-sudut kota yang penuh keramaian. Melesat cepat kalau kau tidak melihat ada sesuatu yang mengharuskan engkau untuk terlibat. Tapi mendadak berhenti ketika ada amarah yang membumbung memberi tanda ke angkasa. Menunduk kepala seraya menajamkan indra untuk menilik lebih jelas apa yang terjadi. Apapun yang terjadi, kau akan tetap berkompromi dengan tujuanmu. Berhenti sejenak di sana. Menawarkan biduk perdamaian dan ketenangan. Perantara dua makhluk yang bertikai. Kalaupun kau tidak bisa memberikan damai di sana. Kau akan mengajak salah satu pihak yang kalah untuk pergi beranjak sebentar dan mendengar keluh kesah yang keluar dari mulutnya. Elusan sayap di punggung, kicau penyejuk, ataupun hanya cicit kecil dari paruhmu, sudah cukup membuat orang lain bisa berdiri tegak kembali. Menuai hidup yang penuh tantangan dengan penuh harapan.

Inilah yang sanggup aku lakukan saat ini. Hanya mengingat apa yang tersisa darimu. Engkau yang sekarang pergi entah kemana. Terakhir kali kau bilang kalau kau tidak mau lagi tergantung denganku. Aku sadar bahwa aku tidak terlalu baik untuk dijadikan tempat bergantung. Aku terlalu rapuh untukmu bergelanyut. Apalagi bagi kamu yang dikatakan berbadan besar oleh pamanmu.

Aku bukanlah orang yang bisa memberi ketenangan padamu setiap saat. Bahkan, aku mungkin adalah prahara yang sampai saat ini masih mengganggu hidupmu.

Aku tahu bahwa perlahan aku akan dienyahkan paksa dari obrolan biasamu. Tidak ada lagi keluh kesah yang akan mampir ke telingaku. Yang ada hanya punggung badanmu yang hanya bisa aku lihat dari kejauhan. Kau yang tampaknya sudah menemukan senyuman lain yang bisa membuatmu merasa nyaman, tanpa harus merasa terpaksa untuk berkata.

Ruang putih itu hanya akan berderak oleh satu jejak langkah. Bukan dua apalagi tiga seperti biasanya. Aku hanya akan merenung seorang diri menikmati imaji tanpa pendamping setia. Uang tiga ribuku hanya akan terbuang sia-sia di dalam sana. Aku belajar berteman dengan sepi. Aku tidak mau memaksakan egoku hanya karena aku tak mau sepi menghampiriku.

Aku akan berdiam di sini. Bertugas sebagaimana biasanya. Menerima hembus nafas pesimis orang-orang di sekelilingku. Dan mengolahnya menjadi sesuatu yang masih berharga untuk dikecap. Tapi, mungkin tidak akan ada lagi rupa stresmu di hadapanku. Tidak ada lagi teriakan aneh yang membuat hantu pun takut berkenalan denganmu. Atau tanganmu yang merusak tatanan rambut acak adulmu.

Aku tahu kau pasti tidak akan lagi merepotkanku. Walaupun aku suka direpotkan olehmu. Kau juga tidak akan lagi menangis di depanku, walau aku juga suka menenangkanmu. Kau tidak akan lagi meminta peluk karena aku tidak bisa lagi memberi. Tapi yang aku tahu, aku tetap di sini. Tidak akan menjauh atau pergi meninggalkanmu. Terlalu sulit untukku mengelak.

Aku akan berperan sebagai sahabat yang akan menerimamu apa adanya. Ketika kamu juga sudah bisa melihatku sebagai teman baikmu. Mungkin saat itulah aku akan berdiri menyambutmu, mengelus rambutmu dan memberi dekap hangat dalam peluk eratku.

*silakan beranjak sebentar sampai kamu puas bergumam takdir.

Kamis, 04 Desember 2008

Fragmen Kepribadian















Kepribadian seseorang sebenarnya terdiri atas fragmen-fragmen tertentu yang menggambarkan satu sifat khusus dalam dirinya. Ada fragmen kemarahan, kejujuran, kebajikan, egois, bahkan fragmen kejahatan. Mereka tidak bisa berdiri sendiri, ada mekanisme keseimbangan yang membuat satu fragmen (seharusnya) tidak mendominasi yang lain. Fragmen-fragmen itu berjalan sinergis sebagai satu kesatuan utuh yang membentuk kepribadian seseorang. Namun yang terjadi, sering kita mencap seseorang secara keseluruhan hanya dengan menilai dari salah satu fragmen saja. Ya, stigma yang akan mengkungkung orang dalam pandangan masyarakat sekelilingnya.




Orang jahat tidak selamanya akan jadi orang jahat, orang baik pun tidak selamanya akan jadi orang yang baik bukan?

Rabu, 03 Desember 2008

Sindrom Pre-21

Judul yang mungkin aneh bagi sebagian orang yang tertarik membacanya, atau mungkin sudah tidak tertarik lagi bahkan untuk membaca seluruh kisahnya karena menemukan ketidaklaziman pada awal kalimat. Ya sudahlah, mari bercerita dan berpendapat, waktuku sedikit sempit tapi bukan berarti kita tidak bisa bercerita di sini.

Kata orang, hidup itu layaknya potongan puzzle yang harus kita susun satu demi satu supaya kita bisa tahu gambar apa yang tersembunyi di sana. sakjano, yo pendapat ini nggak selamanya bener sih kan biasanya di puzzle ada bungkusnya dan kita udah tahu gambar apa yang harus disusun bukan? Berarti hidup bukan seperti potongan puzzle to? Haha. Pendapat yang sedikit aneh memang. Tapi kalaupun hidup seperti puzzle maka kita tentu akan kesulitan untuk menyusun gambar yang seharusnya tersusun di lembaran yang sudah ditentukan. Tanpa petunjuk, tanpa penuntun, tanpa satu arahan apapun, kita diharuskan membuat gambar penuh yang kita sendiri pun tidak tahu apa yang akan tergambar di sana. Bagi sebagian orang petunjuk untuk menyelesaikan gambar itu ada di sekeliling mereka, entah itu alam, lingkungan, dll. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka bisa menemukan tuntunan ketika mereka berinteraksi dengan orang lain. Ada pula yang menemukan petunjuk ketika mereka sedang dalam suasana hening dan merenungi hidup. Ada pula yang menemukan setitik cerah di suasana ramai. Ada pula yang harus berdiam di tempat sepi. Meditasi. Yoga. Atau sederet kosakata lain yang tidak pernah saia kenal sebelumnya. Pada intinya, mungkin tiap-tiap orang mempunyai cara khusus untuk menemukan petunjuk-petunjuk kehidupan yang akan menuntun mereka perlahan demi perlahan menemukan wujud akhir dari kehidupannya.

Ya, aku sendiri pun masih dalam proses mencari segelintir petunjuk yang bisa mengarahkanku pada kehidupan yang lebih jelas. Bukan berarti hidupku sekarang tidak jelas, tapi saat ini, aku masih berpendapat bahwa hidup itu mengalir seperti air sungai. Pendapat yang menurutku sangat naïf, sebodoh-bodohnya daun mengikuti aliran sungai, kalaupun dia bisa memilih maka dia akan memilih aliran yang tanpa riak, tenang dan tidak bergelombang. Dia juga (kalau bisa dan diperbolehkan) akan memilih aliran yang tidak begitu banyak bebatuan. Tak banyak jeram yang bisa membuat tubuhnya robek . Atau dia akan memilih aliran sungai yang tidak harus melewati air terjun yang akan membuat tubuhnya goyah tidak terkendali. Akan ada banyak aliran sungai yang bisa dipilih untuk bisa mencapai satu tujuan yaitu LAUTAN.

Hidupku sekarang seperti ribuan petunjuk yang ada dalam kolam penuh tulisan. Banyak petunjuk yang berkeliaran di luar sana. Menyediakan beratus-ratus makna yang kalau disusun tentu akan terbangun menjadi sesuatu yang bagus. Tapi sayangnya tidak semua petunjuk itu aku butuhkan, ada petunjuk yang memang aku perlukan, ada petunjuk yang hanya jadi sampah dan malah mungkin menyesatkan. Itulah yang terjadi pada diriku sekarang. Berbagai macam idealisme bergabung menjadi satu, berusaha menurunkan derajatnya dan beradaptasi dengan realitas yang ada. Sedang di lain sisi, realitas yang aku jalani pun sering memunculkan idealisme baru yang sangat bertentangan dengan apa yang aku hidupi selama ini.

Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menuliskan ini dalam deretan kata-kata. Apa yang ada di otakku sekarang terlalu sulit untuk disusun. Aku sampai-sampai tidak bisa membaca apa yang sedang bergejolak di dalam jiwaku. Ah, sudahlah. Mungkin di antara kalian ada yang “sedang” atau “pernah” berada dalam posisiku. Suatu kondisi dimana kalian harus mensinkronkan berbagai idealisme dan realitas yang ada agar membentuk satu kesatuan yang sinergis. Sama seperti ketika orang bilang bahwa otak dan perasaan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, mereka harus berjalan berdampingan dan saling melengkapi.

Masalahnya adalah saia sekarang tidak punya cara yang cukup jitu untuk menyambungkan kedua hal tersebut. TOOOLLLLOOONGGGG!!!

Selasa, 14 Oktober 2008

Pake Hati Donk, Mas!


Tadi malam saya benar-benar tertidur secara tidak nyenyak. Di tengah keenganan untuk meneruskan belajar yang membuat saya tidak lancar mengerjakan ujian, berbagai pikiran imajinatif menyerang sendi-sendi pertahanan otakku. Mulai dari imajinasi yang saru sampai yang bermutu. Lebih banyak sarunya mungkin! Nah, di kala saya sedang asik-asiknya bercinta dengan guling di taman surga, saya terbangun mendengar bunyi kotak kecil yang menghubungkan saya dengan bermacam-macam orang di luaran sana. Begini bunyinya:

Si sms : Pink! Knp to kebanyakan pria begitu egois? Huff.
Saya : Iya. Lelaki memang brengsek.Egois. Kenapa? Mgkn gawan bayi nek sifat kuwi. Ono opo
to emange?

Sms itu saya tulis pukul 1 dini hari, sesaat setelah saya terjaga karena bunyi alarm yang
sengaja saya taruh di dekat telinga. Pagi harinya pas aku ketemu dengan temanku itu di
kampus. Obrolan itu langsung menjadi topik pembicaraan utama. Dia langsung bertanya
kepadaku.

Si teman : Pink, kalau misalnya saya bilang, ini hapeku jadi terserah aku mau
ngapain aja, apa tanggepanmu?
Si saya : Wah, yo biasa wae to? Nek aku mah ra popo, asalkan kowe le ngganggo hape
njuk tidak mengganggu orang lain. Sesuaikan konteks sajalah.

Si teman saya itu langsung manggut-manggut mendengar opini itu. Sedetik kemudian, dia mulai bercerita kenapa dia sampai harus mengirimkan sms itu kepada saya. Ternyata, dia sedang marahan dengan adiknya, mungkin bisa dibilang marah akut tapi nggak bisa nampar, ngludah, nginjek muka orang yang buat marah karena yang buat marah adalah adiknya sendiri. Jadinya dia melampiaskan segala kekesalannya di depanku. Apa gerangan yang membuatnya jadi sebegitu kesal? Nah, ceritanya begini, adik teman saya itu baru saja putus, lalu si teman saya itu tanya kepada adiknya.

Si teman : Heh, ngopo kowe kok ndadak putus barang?
Si adik teman : Yo ben to, sakarepku!
Si teman : Yo nggak bisa gitu no, kamu egois! (mungkin disampaikan dengan gaya slow motion ala sinetron-sinetron remaja kacangan yang marak beredar di telepisi)

Woh, langsung mendidih itu si temanku mendengar adiknya berkata seperti itu. Saya pun menanggapi kekesalannya dengan manggut-manggut nggak jelas dan malah melayangkan pikiran untuk bisa menulis sesuatu mengenai keegoisan lelaki.

Malam harinya, saya diajak curhat sama temenku yang laen. Kebetulan dia baru saja “ditinggal” secara paksa oleh lelaki yang selama ini memperlakukan dia layaknya seorang putri. Nah, jebule si teman saya itu sangat sakit hati dengan lelaki yang memperlakukannya seenak wudelnya sendiri (wudel sendiri ki enak rasane po piye je?). Lalu mulailah dia bercerita panjang lebar mengenai apa yang terjadi antara dia dan lelaki itu. Ceritane panjang tenan (berlebihan ki aku), jadi kesimpulannya adalah sampai pada saat dia sudah sakit hati pun, si cowok nggak sadar kalau dia itu salah dan malah mau cari “korban” untuk disakiti lagi. Kata teman saya, si lelaki itu selalu butuh kasih sayang dan perhatian dari seorang wanita. Lha, njuk saya tanya.

Si pink : Menurutmu, teman lelakimu itu termasuk berkelakuan egoiskah?
Si teman saya : Yaelah, jelas bangetlah kalo dia EGOIS!

Obrolan yang berlangsung selama setengah jam itu dihabiskan dia untuk berkeluh kesah tentang lelaki yang secara sadis mengiris-ris hatinya (halah. Bahasamu lik-lik!). Walah...walah..sejurus kemudian saya njuk berpikir apakah sebegitu egoisnya kaum lelaki di mata wanita? Secara tidak hormat dan disertai dengan imajinasi tanpa batas, saya pun menelaah lebih lanjut, apa yang sebenarnya terjadi dengan pemikiran dan idealisme para kaum di dunia saya.

Hmmm....sebenarnya kalau dibilang lelaki itu egois sih, sah-sah saja, malah kemungkinan besar dugaan atau tudingan yang dilontarkan oleh para wanita itu banyak benarnya. Para lelaki itu lebih sering menggunakan otaknya untuk mengambil suatu keputusan dan jarang memakai perasaannya sebagai suatu pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Yups, RASIONALITAS. Itulah yang selalu dikemukakan sebagai dalil untuk penyelesaian suatu masalah. Asalkan apa yang diputuskannya itu rasional dan menurut dia adalah sesuatu yang benar, maka tidak perlu repot untuk memikirkan apa yang orang lain rasakan akibat dari keputusannya itu. Contoh gampangnya adalah apa yang tadi malem saya lihat di tipi, seorang cowok dengan tega memutuskan pacarnya hanya karena dia sudah bosan dengan hubungan mereka. Lha, untuk memuluskan jalan agar segera bisa putus, si lelaki itu merancang berbagai macam pembenaran supaya si perempuan bisa menerima keputusannya. Padahal, di lain sisi, si wanita sudah nangis mbeker-mbeker ngguling-ngguling, tapi tetep saja si lelaki tidak mau untuk memperbaiki hubungan itu dan tetap memilih untuk putus. Apakah si lelaki itu egois?

Sebenarnya kalau dalam hubungan pacaran, egois ini bisa terjadi lewat proses atau memang sudah gawan lahir dari si lelaki itu sendiri. Kalau yang gawan lahir, itu mah karena dari awal sifatnya dia sudah seperti itu. Nah, bagaimanakah egoisme yang terjadi lewat proses? Terkadang kita menemukan wanita dengan tipe yang anteng, manutan, tidak banyak menuntut, dan berbagai macam kebaikan lainnya. Sehingga dalam relasi berpacaran, pihak lelakilah yang lebih banyak mengambil keputusan. Semua pertimbangan selalu ada di pihak lelaki. Apa yang dimaui oleh lelaki selalu dituruti oleh pasangannya. Alhasil, si lelaki jelas akan merasa lebih berkuasa daripada si wanita karena si wanita itu sendiri tidak punya bargaining position yang cukup kuat untuk bisa menolak keputusan si lelaki. Selain itu, para wanita itu punya seribu macam cara untuk melakukan manipulasi ekspresi, sehingga kalau semisal dia tidak suka dengan apa yang si lelaki lakukan, dia akan terlihat senang-senang saja dan tidak ada masalah. Kondisi seperti inilah yang kemudian akan membuat si lelaki terbiasa untuk “dimanjakan” oleh si wanita sehingga si lelaki akan selalu berkutat dengan pemikirannya sendiri dan LUPA untuk juga menyertakan (perasaan) si wanita dalam setiap hal yang mau dia putuskan. Pada akhirnya, konsep saling memahami antara satu sama lain pun menjadi tidak tercapai. Yang satu merasa bisa memahami, tetapi di lain sisi, pasangannya merasa tidak pernah dipahami oleh yang lain. Inilah yang kemudian sering menjadi penyebab retaknya relasi pacaran. Tidak ada kesepahaman perasaan antara lelaki dan wanita.

Yah, sebenarnya sisi lemah dari kebanyakan lelaki adalah dia itu punya sifat bawaan sombong, suka berkuasa, dan tidak rendah hati. Inilah yang kemudian akan merembet pada tindakan-tindakannya yang cenderung egois dan tidak mempedulikan perasaan orang lain. Hwuh, sebuah sikap yang menurut saya sudah harus dihilangkan ketika seorang lelaki memasuki usia 20 tahun. Dengan tingkat pemahaman dan idealisme yang semakin tinggi seharusnya diikuti juga dengan kemampuan “mengerti” orang lain. Kalau seorang lelaki tidak juga bisa menyeimbangkan antara kemampuan berpikirnya dan kemampuan memahami orang lain. Maka dia akan cenderung bersikap layaknya diktator yang tidak pernah mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain dan berusaha melaksanakan ambisinya dengan cara apapun. Nah, kalau keseringan tidak bisa memahami orang lain, maka lambat laun orang-orang di sekitarnya pun tidak akan pernah mau (bersusah-susah) memahami perasaannya terlebih ketika dia kesusahan. Makanya, pake hati donk mas!

PESAN OF THE WEEK: “Jangan pernah bersikap egois pada siapapun mulai sekarang, emang mau kalau kamu lagi putus cinta dan butuh teman curhat, tapi yang mau ngedengerin cuma bantal ama guling? Iihhh…gw mah ogah!”

KESAN OF THE WEEK: “Memahami orang lain adalah sebuah seni yang akan sangat mengasikkan kalau dilakukan. Karena dengan memahami orang lain kita akan menelusup masuk dan menjelajah ke alam pikiran dari orang tersebut. Cobalah dan kamu nggak akan menyesal!”

*buat yang merasa ditulis, maaf ya, hehehe.....
*touch of writing-ku sedang kacau nih, maaf kalau tidak enak dibaca, hehe....

Jumat, 10 Oktober 2008

Hormati Kelamin Sesamamu!

Sore ini saia sedikit memutar otak melihat sebuah iklan shampo di televisi. Iklan itu bercerita tentang seorang anak perempuan berambut panjang yang diantar ibunya menemui pelatih sepakbola di sekolahnya. Kemudian muncul beberapa percakapan antara mereka berdua.

Si ibu : “Pak, ijinkan anak saia untuk masuk tim sepakbola”
Si pelatih : “Nah, itu kan untuk anak lelaki?”
Si ibu : “Tapi kemampuannya sama dengan anak-anak lelaki, pak!”
Si pelatih : “Iya, tapi nanti kalo kotor kena debu, rambutnya lepek, bagaimana?”
Si ibu : “Ah, bapak hanya tinggal melatihnya, lainnya saia yang urus!”

Nah, akhirnya si anak pun dilatih secara khusus oleh pelatih tersebut. Jatuh bangun menangkap bola di tanah yang berrdebu, tapi si anak pantang menyerah. Sampai si anak pun ikut dalam satu pertandingan sepakbola dan dia akhirnya mencetak satu gol penentu dengan tendangan volley sambil menggeraikan rambutnya yang panjang itu. Iklan yang agak aneh sih menurutku, tapi bukan itu point yang mau saia ambil.

Iklan yang tidak seberapa menarik itu melambungkan saia pada kejadian beberapa tahun silam. Saat saia bersusah payah menyelesaikan karya tulis sebagai tugas untuk kenaikan kelas. Kebetulan topik yang saia ambil adalah mengupas makna seks dalam novel yang ditulis Djenar Maesa Ayu berjudul “Jangan Maen-Maen (dengan Kelaminmu)”. Topik yang saia kira tidak banyak disadari oleh teman-teman saia kala itu. *mungkin inilah yang menjadikan saia sedikit aneh di mata teman-teman dekat saia, kadang-kadang pikiranku suka berimajinasi berlebihan* Nah, salah satu judul cerita yang saia kupas ada yang berjudul “Menyusu Ayah”. Inti ceritanya adalah seorang anak perempuan piatu karena ibunya meninggal pada saat proses kelahirannya. Yang paling menarik menurut saia adalah satu paragraf yang cukup membuat saia terhenyak ketika membacanya untuk pertama kalinya. Begini bunyinya.

Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.

Itulah yang membuat saia pada akhirnya sedikit sebel dengan iklan yang baru saja saia tonton itu. Selain dari segi estetika tidak terlalu menarik, kalau dikaji lebih lanjut, iklan itu pun menunjukkan bahwa perempuan berada pada kondisi yang lebih rentan daripada lelaki. Perempuan masih dianggap sebelah mata ketika dia berusaha untuk memasuki dunia yang selama ini lekat dengan maskulinitas, seperti misalnya sepakbola, politik, dll. Perempuan ditakdirkan untuk mempunyai kodrat-kodrat yang berkaitan dengan posisinya sebagai seorang perempuan, misalnya melahirkan, merawat anak, mengurusi keluarga. Begitulah yang selama ini mentradisi dalam masyarakat Indonesia. Perempuan dipaksa untuk terkungkung dalam kodratnya sebagai seorang perempuan. Kalau pun semisal dia berusaha untuk memilih tidak melakukan apa yang sudah dikodratkan “masyrakat” kepadanya, maka gunjingan akan segera terjadi baik itu di pihak internal ataupun eksternal perempuan tersebut.

Kalau boleh meminjam istilah yang tidak disukai salah seorang teman saia (Sista.red), wanita berada pada posisi yang inferior sedangkan pria ada di posisi yang lebih superior. Ya, itulah yang sejak dahulu berkembang di masyarakat Indonesia, perempuan dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Salah seorang filsuf Prancis pernah menulis bahwa perempuan itu adalah second sex, dimana dia memang sudah dilahirkan tidak dalam posisi yang sejajar dengan lelaki, tetapi dalam posisi yang lebih bawah.

Tekanan yang begitu besar dari “dunia maskulin” pun membuat jengah beberapa golongan perempuan yang menamakan diri sebagai penganut feminisme. Sebuah aliran atau boleh dibilang suatu idealisme yang mendasarkan kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Mereka berusaha agar para perempuan diberi posisi yang sejajar dengan para lelaki. Mereka tidak ingin melebihi kaum lelaki, tetapi paling tidak jadikanlah mereka partner untuk kaum pria. Itulah beberapa “tuntutan” yang sering disuarakan oleh mereka. Sehingga banyak di antara mereka yang rela tidak menikah karena menikah sama saja dengan memposisikan diri mereka ada di bawah laki-laki. Fiuh. *bisa-bisa gag ada lagi cerita malam pertama nek kabeh wong wadon duwe pikiran koyo ngene!*

***

Saia kira tidak ada seorang ayah yang menyesal bila dia diberi karunia berupa anak laki-laki. Lain halnya ketika Tuhan memberikan dia anak perempuan, akan ada sejenak raut wajah kekecewaan walaupun pada akhirnya dia tidak berbuat apapun terhadap kondisi tersebut. Laki-laki yang sudah sejak lahir seperti “terkodratkan” untuk berada di atas perempuan pun sering memiliki arogansi yang kelewat batas terhadap para perempuan. Berbagai kesombongan pun terpancar dari segala tingkah laku mereka untuk menunjukkan bahwa mereka lebih berkuasa daripada lelaki. Perasaan tidak terima dan merasa terlecehkan pasti akan langsung menyeruak ketika ada perempuan yang berada pada posisi yang lebih tinggi daripadanya. Berbagai proteksi pun dilancarkan agar si perempuan tidak bisa mencapai posisi yang lebih tinggi dari lelaki. Kebanyakan lelaki akan takut kalau perempuan ada di posisi yang “lebih berkuasa” maka mereka akan diperlakukan secara sewenang-wenang dan akan dipermalukan harga dirinya. Sebuah ketakutan yang saia kira tidak masuk akal.

Hal ini pulalah yang tercermin dalam dunia kehidupan sehari-hari. Tidak usahlah mengambil contoh kuota DPR yang sampai saat ini pun kursi untuk caleg perempuan yang “hanya” 30% itu tidak kunjung bisa terpenuhi. Lihat saja keseharian di sekeliling kita, bolehlah kita ambil contoh masalah percintaan. Baru-baru ini saia mendengarkan cerita dari adik sepupu saia (adik sepupu saia ini perempuan.red) yang baru saja putus dari pacarnya. Walaupun sudah putus, si mantan pacarnya adik saia ini nggak terima kalau semisal si adik saia itu dekat dan akhirnya pacaran dengan lelaki lain. Aneh nggak sih? Menurut saia sih aneh banget. Itu mungkin perilaku otomatis yang akan dilakukan seorang lelaki ketika posisinya terancam.Yup, si lelaki itu pasti akan berpikir kalau si saudara saia itu akan meninggalkan dia dalam kondisi masih “sendirian” alias belum punya pengganti. Dan saia yakin, sikap yang ditunjukkan oleh lelaki itu hanyalah sikap seorang pengecut yang tidak mau mengakui “kekalahan” nya terhadap orang lain apalagi seorang perempuan. Adik saia itu pun sempet beropini “Egois banget yo mas si mantanku itu.” , dengan tegas dan lantang saia jawab “YA”.Hehe. Memang begitu kenyataanya, lelaki itu sering merasa lebih berkuasa dalam menjalani sebuah hubungan, sehingga dia cenderung sombong dan tidak mau peduli dengan pasangannya. Akibatnya sudah bisa ditebak, dalam hubungan pacaran itu, sering sekali si lelaki menyakiti hati pasangannya, baik itu sadar maupun tidak sadar. Nah, kalau si perempuan sudah tidak sabar dengan sikap si lelaki, lalu mereka pun berontak dan minta putus. Selalu begitu akhirnya. Walaupun sudah putus, si lelaki masih saja tidak mau mengalah dan merelakan perempuan yang pernah jadi pasangannya untuk bisa memadu kasih dengan lelaki lain. Ckckckck….dasar lelaki!

PESAN OF THE WEEK:
“JANGAN JADI HOMO, KARENA KALIAN SUDAH TAHU KAN KALAU LELAKI ITU BRENGSEK, MAKANYA NIKAHLAH DENGAN WANITA SAJA BUKAN DENGAN LELAKI!”

KESAN OF THE WEEK:
“JADILAH LELAKI YANG RENDAH HATI, JANGAN MERASA SOMBONG TERHADAP POSISIMU, KARENA SAIA PERCAYA PEREMPUAN ITU SEBENARNYA LEBIH BERKUASA DARIPADA KITA, TAPI BEDANYA MEREKA RENDAH HATI DAN TIDAK SOMBONG!”

OH IYA...SELAIN RENDAH HATI DAN TIDAK SOMBONG,WANITA JUGA RAJIN MENABUNG!*

*halah. Ra penting banget iki!
*buat temen2ku di kampus, berhentilah untuk menjadi homo sejak sekarang. nggak enak. beneran. bolongane homo ki mung siji. hahaha. saru tenan!